islam itu santai?

singkat cerita saya shalat di mesjid telkom di kawasan telkom development center di daerah geger kalong. sehabis shalat zuhur, ada ceramah, saya pikir, alhamdulillaah, dengerin ceramah dulu lah, sebagai penyegaran rohani dan menambah wawasan, terlebih di bulan ramadhan.

there he goes, ustad yang masih muda kelihatannya, mungkin umurnya blm mencapai 30 tahun. ia membuka ceramahnya dengan ‘manusia jaman sekarang sudah tidak mencintai rasul’ saya langsung kaget dan menggernyitkan dahi, ‘karena kita mulai meninggalkan sunah dan tidak mengganggap sunah itu penting’ lanjutnya. saya, yang tadinya mulai ngantuk langsung melek dan berfikir keras. ‘tapi saya tidak menyalahkan kenapa banyak orang yang tidak menyukai sunah karena cara penyampaian yang salah, diktator dan memaksa’.

mata saya makin melek dan berfikir, kalau dipikir pikir memang benar apa yang disampaikan ustad ini, terkadang penyampaikan sunah tersebut terkesan sangat keras. bukan hanya sunah, penyampaikan berupa saran atau pendapat pun menjadi keras sekali kesannya. saya jadi ingat atasan saya pernah bercerita kalau dia memakai baju warna merah dan masuk ke mesjid, selesai shalat, dia langsung didatangi oleh salah satu jamaah yang memperingati ‘pak, harusnya ke mesjid jangan pakai baju warna merah, ga boleh ke mesjid pakai baju warna merah, berkurang pahalanya’ waktu pertama kali di ceritakan ini, saya langsung shock, karena yang saya tahu, memang rasul tidak menyukai warna merah, namun apakah ada larangan memakai baju merah saat ke mesjid dan sampai sampai mengurangi pahala shalat? if that’s the case, kami sebagai karyawan Telk** berkurang dong pahalanya, karena seragam kerja kami kebetulan warna merah menyala.

kisah lain, saya masih ingat karena ini saya alami sendiri. sebelum shalat ashar, saya shalat qabliyah ashar, kemudian shalat ashar. teman saya langsung menghardik ‘shalat apa barusan?’ saya jawab shalat qabliyah, kemudian dia melanjutkan ‘tidak pernah ada shalat qabliyah sebelum ashar, ini tidak pernah dilakukan oleh rasul’ dan kemudaian dia meminta saya memberi tahu imam apa yang saya ikuti, kutiapan hadist terkait shalat qabliyah dan lain lain, kemudian di akhir dia katakan ‘terserahlah, yang penting udh kuingatkan’ i mean. okay, saya tidak akan menjelaskan atau membahas lebih jauh mengenai shalat qabliyah ini, tapi point saya adalah, ‘apakah cara kita sebagai muslim, menyampaikan pesan atau pendapat harus selalu dengan cara begini?’ mengklaim bahwa kita benar dan orang lain salah. padahal kita belum tentu benar dan menguasai hal tersebut.

in case of sunnah, saya punya pengalaman menarik, ini saya alami semasa saya sma. setelah shalat jum’at karena buru buru, saya keluar tergesa dari mesjid setelah selesai shalat, karena banyak yang sedang shalat sunnah, saya berusaha menghindari untuk tidak lewat di depan orang yang sedang shalat. di dekat pintu banyak yang sedang shalat sunnah, kemudian saya lewat di depannya (ini karena kurangnya pengetahuan agama saya pada waktu itu jadi saya tidak mengetahui) saya pikir tidak kenapa kalau saya lewat. kemudian saya dimarahi dan dipanggil langsung oleh orang orang di sekitar mesjid ‘dasar orang tau agama, ga pernah diajarin di rumah ya? kan ga boleh lewat depan orang shalat’, kemudian beberapa orang menghardik saya, trust me, it’s not nice to be put in that position. bukankah lebih baik jika saya diingatkan dengan cara yang biasa biasa saja, disampaikan ke saya dengan cara berbicara dan diskusi baik baik. haruskah kita muslim begini cara ingat mengingatkannya?

‘padahal cara rasul menyampaikan sunnah sunnah nya sangat indah dan jauh dari hal hal yang kita lakukan saat ini, rasul menyampaikannya dengan senyuman’ lanjut ustad meneruskan ceramah nya, ‘misalnya, pada saat ada yang buang air kecil di mesjid, apa yang dilakukan rasul pertama kali? tersenyum. ya tersenyum dan akhirnya memberitahunya dengan cara yang baik’ bukankah begini seharusnya kita sebagai muslim? terkadang orang yang sudah belajar banyak atau tahu banyak tentang islam, menjadi orang yang mengerikan di keluarga nya. pada saat dia sudah tahu banyak sunnah, mana yang boleh dan sebaiknya jangan, kemudian cara dia menyampaikan ke orang tua nya, kerabat kerabatnya adalah dengan cara yang salah. ini malah membuat kita bukan semakin mencintai sunnah, tapi malah makin jauh dari sunnah.

ustad mengakhiri ceramahnya dengan mengatakan ‘islam itu bukan hanya fatwa fatwa, tapi islam itu juga santai, namun tetap dalam kapasitas nya berdasarkan Al-Qur’an & sunnah’

semoga bermanfaat dan menjadi reminder buat kita semua, terutama diri saya sendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s